You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Banjengan
Desa Banjengan

Kec. Mandiraja, Kab. Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

Bagi warga yang hendak mengurus administrasi kependudukan, untuk membawa e-KTP atau Kartu Keluarga.

Sejarah Desa

Administrator 27 Oktober 2021 Dibaca 481 Kali
Sejarah Desa

LEGENDA

Desa Banjengan dulunya merupakan Padepokan yang dipimpin oleh Kayi Bernama RUMPAK BOYO WARENG yangberasal dari wilayah kerajaan mataram. Beliau dulunya adalah Bupati Pajang, yang merupakan salah satu wilayah Mataram yang saat itu Rajanya adalah Sultan HADIWIJAYA. Namun karena  selisih pendapat , baik dalam soal pemerintahan maupun pengislaman rakyat mataram, dengan sang raja.Sehinnga Rumpak Boyo Wareng mengundurkan diri sebagai Bupati Pajang. Dan Sultan Hadiwijaya tidak menberikan maaf apalagi ampunan. Rumpak Boyo wareng tetap dianggap sebagai bawahan yang berani menetang (mbalelo) kepada Raja. Sebagai hukuman RUMPAK BOYO WARENG diusir dan dilarang tinggal di wilayah Kasultanan Mataram. Karena Sultan Hadiwijaya curiga Rumpak boyo Wareng akan mengaco keamanan Kasultanan, Sultan hadiwijaya memerintahkan untuk memeburu dan bila perlu membunuhnya.

Rumpak Boyo Wareng yang saat itu belum jadi Kyai, merasa sangat sedih dan hidupnya mersa terancam. Dalam pelariannya RBW ber sembunyi di atas pohon wareng. Dan dia berserah diri dan curhat, ( ngadubaya ) kepadaGusti kang maha Suci. Dalam wantu yang tidakdapt di hitung lagi. Dan setelah beliau mendapat wangsit untuk Mandita, akhirnya dia kelluar dari persembunyian, Beliau terus berjalan menuju arah matahari terbenam.

Untuk mennyembunyikan indentitas yang sebenarnya, Rumpak Boyo Wareang mengganti namanya dengan Rogo Noto. Sebenarnya nama ini bukan dari dia sendiri, tetapi karena ajaran beliau adalah untuk menata kehihidupan agar lebih baik , dan dimulai dari tingkah laku ( raga ), maka dia dikenal dengan KYAI Raga Nata ( Dialek Jawa ROGO NOTO ).

Meskipun RBW sudah menjadi Kyai tatapi jiwa kesatria dan kenegaraannya tetap melekan di dalam jiwanya. Makan beliau mengidamkan natinya padepokan yang dia pimpin menjadi Kannjengan/ kadipaten(bahan Kanjengan). Makanya belau wanti-wanti besuk rejaning jaman wilayah padepoandan sekitarnya diberinama BANJENGAN kependekan dari Bahan Kanjengan.

SEJARAH DESA

Desa Banjengan berdiri sekitar tahun 1312 Masehi, dan Desa Banjengan didirikan oleh Putra Abdi Dalem Kerajaan Mataram. Beliau berkelana menuju barat menjalankan perintah gurunya hingga beliau menemukan pemukiman yang datar, banyak air, berada ditengah rawa dangkal dan singgah. Beliau kemudian menjadi pemimpin karena beliau sangat pintar dalam bertani dan membina kerukunan antara penghuni disekitarnya, sehingga masyarakat sekitar memberi gelar atau nama “Ky. ROGO NOTO”. Kemudian, beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman Dusun Pacor yang sering disebut “Mbah Kedoya”.

Ky. ROGO NOTO sendiri mempunyai istri, putri dari Mbah Keputihan yang bernama “Ny. Nawang Sasi”, tetapi dalam kehidupan sehari hari Ny. Nawang Sasi mempunyai banyak tuntutan kepada Ky. ROGO NOTO. Ny. Nawang Sasi juga menyimpan rasa suka kepada “Demang Kertayasa” sehingga Ky. ROGO NOTO mengusir istrinya. Ky, ROGO NOTO membuatkan rumah di kampong sebelah timur pacor, hal ini dilakukan Ky. Rogo Noto untuk menghindari pertengkaran dengan istrinya dan menjaga nama baik di hadapan orang tuanya Ny. Nawang Sasi yaitu Mbah Keputihan.

Meskipun demikian “Ki Demang Kertayasa” tetap bersikeras untuk mendapatkan Ny. Nawang Sasi, sehingga terjadilah pertengkaran dan perlawanan. Dan pada akhirnya Ky. Rogo Noto dapat memenangkan pertengkaran tersebut, sebagai tebusan di bentuk sebelum Indonesia Merdeka. Sebelum Indonesia Merdeka Desa Banjengan dahulunya merupakan sebuah Padepokan atas kemenangannya melawan Ki Demang, Ky. Rogo Noto meminta sebagian wilayahnya sebagai wilayah Ky. Rogo Noto.

Dan dalam perkembangan Kampung Pacor pada Zaman Belanda sekitar tahun 1767 ditetapkan menjadi Kampung Kanjengan, dan pada masa pemerintahan Belanda oleh Ky. Naya Gata Kampung Kanjengan diganti dengan nama Kampung Banjengan atau Desa Banjengan.

Adapun pemimpin atau Kepala Desa pada waktu itu sampai sekarang adalah:

No Nama Tahun
1 Naya Gata 1976-1823
2 Asan Murja 1823-1856
3 Karta Singa 1856-1895
4 Dipa Wedhana 1895-1924
5 Wirya Yudha 1924-1929
6 Darmo Miharjo 1929-1946
7 San Sulaiman 1946-1954
8 Yoesbandi 1954-1977
9 Gatot Sukotjo 1977-1989
10 Agus Kosun 1989-1999
11 Sarkim Wasis 1999-2007
12 Sandireja 2007-2013
13 Supangat 2013-2019
14 Nyoto 2019-Sekarang

 

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2025 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp2,027,229,689 Rp2,023,532,256
100.18%
Belanja
Rp1,906,402,791 Rp2,030,759,134
93.88%
Pembiayaan
Rp453,226,878 Rp453,226,878
100%

APBDes 2025 Pendapatan

Hasil Usaha Desa
Rp2,855,256 Rp2,855,256
100%
Hasil Aset Desa
Rp305,870,000 Rp304,490,000
100.45%
Dana Desa
Rp1,114,485,000 Rp1,114,485,000
100%
Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi
Rp75,141,000 Rp75,141,000
100%
Alokasi Dana Desa
Rp402,601,000 Rp402,601,000
100%
Bantuan Keuangan Kabupaten/kota
Rp120,000,000 Rp120,000,000
100%
Penerimaan Dari Hasil Kerjasama Dengan Pihak Ketiga
Rp2,460,000 Rp2,460,000
100%
Bunga Bank
Rp3,817,433 Rp1,500,000
254.5%

APBDes 2025 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp762,696,795 Rp794,994,474
95.94%
Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa
Rp979,004,100 Rp1,015,696,000
96.39%
Bidang Pembinaan Kemasyarakatan
Rp49,314,500 Rp57,002,200
86.51%
Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rp75,787,396 Rp110,026,260
68.88%
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa
Rp39,600,000 Rp53,040,200
74.66%